Wagoeblog’s Blog

Just another WordPress.com weblog

MASYARAKAT JAWA

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di Asia dan dunia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi baik dari segi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan segi budaya baik yang berupa budaya fisik maupun yang langsung menyentuh pada sisi rohani setiap individu bangsa Indonesia.

Dinamika sosial yang terjadi di Indonesia dari masa keberadaan kerajaan-kerajaan lalu diikuti dengan masa kolonialisme sampai dengan saat ini peran dan keberadaan suku Jawa tidak dapat dipungkiri memiliki peran dan pengaruh yang cukup besar atas keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyarakat Jawa dengan adat istiadat serta nilai-nilai sosial yang diperkaya dengan norma-norma sosial yang tetap mendarah daging pada setiap individu masyarakat jawa ditengah gencatnya pengaruh globalisasi yang menyentuh segala aspek kehidupan baik berupa pengaruh fisis maupun non fisis.

Masyarakat Jawa yang berjumlah lebih dari 100 juta orang (menurut studi The Library of Congress – Country Studies) dari 220 juta penduduk Indonesia merupakan kaum mayoritas dari bangsa Indonesia yang tidak dapat dipungkiri memiliki prestasi yang luar biasa dalam mempertahankan warisan budayanya hingga beberapa keturunan yang tentunya memiliki pengaruh yang cukup besar pada interaksi sosial masyarakat Indonesia saat ini.

Tulisan ini bermaksud untuk mengemukakan uraian mengenai situasi Indonesia dengan keanekaragaman Indonesia yang memiliki daya pengaruh pada interaksi pada masing-masing budaya yang ada di Indonesia. Mengulas keberadaan Suku jawa dengan apa yang ada di dalamnya ,yang merupakan kaum mayoritas dari bangsa Indonesia

.

B. LANDASAN TEORI

Berpedoman pada Sociological Theory (Teori Sosiologi) dijelaskan bahwa proses sosialisasi yang berjalan secara bertahap pada suatu nilai-nilai sosial akan menimbulkan kontinuitas pada kejadian-kejadian yang berefek langsung ke dalam masyarakat baik efek fisis mupun non fisis. Hal ini kemudian menjadi pijakan utama dalam penulisan ini. Teori Sosiologi ini menempatkan masyarakat jawa sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan ras dunia yang memiliki nilai-nilai sosial tertentu yang berlaku dan mengalami sosialisasi secara bertahap. Sosialisasi bertahap dari nilai-nilai sosial yang tertanam pada masyarakat Jawa secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruhnya pada lingkungan sekitarnya.

C. RUMUSAN MASALAH

Pada penulisan ini, penulis mengajukan rumusan masalah mengenai Sistem kekeluargaan, kekerabatan serta pengelolaan masyarakat Jawa di Indonesia .

D. HIPOTESA

Pada penulisan ini, penulis mengambil kesimpulan sementara bahwa pada dasarnya Sistem kekeluargaan, kekerabatan serta pengelolaan masyarakat Jawa di Indonesia merupakan faktor yang membuat keberadaan dan keberlangsungan masyarakat Jawa tetap ada dan bertahan di Indonesia.

.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

A. MASYARAKAT JAWA SEBAGAI SUATU ETNIK DI INDONESIA

Etnik merujuk kepada bangsa manusia. Dari perkataan etnik terhasil perkataan etnologi yang merujuk kepada salah satu daripada cabang bidang sains antropologi, yang mengkaji rumpun bangsa manusia dan berbagai aspek kebudayaannya serta perhubungan antara satu bangsa dengan yang lain. Kumpulan etnik ialah sekumpulan manusia yang saling mengaitkan diri sendiri dengan sesamanya, biasanya atas sebab silsilah dan keturunan yang sama. Contohnya adalah budaya, kelakuan, bahasa atau agama.

Masyarakat Jawa sebagai suatu etnik di Indonesia, menurut Koentjaraningrat, dikatakan bahwa hakekat hidup orang Jawa pada dasarnya menganggap hidup sebagai rangkaian peristiwa yag penuh dengan kesengsaraan, dimana harus dijalakan dengan tabah dan pasrah. Mereka biasanya menerima keadaannya sebagai nasib. Selanjutnya tingkah laku dan adat sopan santun orang Jawa terhadap sesamanya sangat berorientasi kolateral. Bahwa merekan hidup tidak sendiri di dunia, maka mereka hidup saling tolong menolon, saling memberikan bantuannya. Mereka juga mengembangkan sikap tenggang rasa (tepo seliro), dan berlaku conform dengan sesamanya, selain itu mereka juga mengintensifkan solidaritas antara para anggota suatu kelompok kerabat (Haryono,1993)

Selain itu dalam budaya Jawa juga dikenal dengan nilai sosial, orang Jawa mengenal nilai kerukunan dimana dikatakan bahwa orang dalam budaya ini biasanya hidup rukun. Tujuan dari prinsip ini adalah untuk mempertahankan keadaan masyarakat ang harmonis. Atas nama prinsip ini maka orang Jawa berusaha untuk menghilangkan tanda-tanda ketegangan masyarakat atau antar pribadi, sehingga hubungan sosisal akan tamak harmonis dan baik, meskipun harmonis itu relatif sifatnya. Biasanya mereka akan menghindar dari konflik dengan cara membiarkan permasalahan itu berlalu atau dibatinkan. Spontanitas dalam memberikan reaksi dengan mengungkapkan diri dan mengambil posisi dianggap tidak etis, karena akan mengundang konflik. Keadaan rukun memuaskan bagi orang jawa, sekalipun itu kesan belaka yang tidak mencerminkan hakikatnya(Haryono 1993).

Menurut H.Geertz, 1983 mengatakan bahwa pada masyarakat Jawa, perkawinan merupakan suatu peristiwa yang harus terjadi dalam kehidupan seseorang.

Perkawinan di Jawa tidak dipandang semata-mata sebagai penggabungan dua jaringan keluarga yang luas, tetapi yang dipentingkan adalah pembentukan seuah rumah tangga sebagai unit yang berdiri sendiri. Pandangan ini jelas di dalam istilah “kawin” ialah omah-omah yang berasal dari kata omah atau rumah. Karena hanya sekedar untuk membentuk rumah tangga saja, maka meskipun secara ekonomi belum memadai dan masih tergantung paa orang tuanya, pasangan itu dapat dengan mudah memperoleh retu an dikawinkan oleh orang tuanya. Pemilihan calon pasangan merupakan urusan pribadi. Keluarga lebih-lebih keluarga besar tidak memegang peranan penting dalam pemilihan calon pasangannya.

Etnik Jawa memiliki ciri halus, ramah tamah, bersopan santun, sederhana, dan menghormati adat kebiasaan. Orang Jawa sangat terkenal sebagai suku bangsa yang sopan dan halus, tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasakan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulahh mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. Sistem kekeluargaan pada masyarakat Jawa didasarkan pada prinsip keturunan bilaeral, sistem istilah kekerabatan didasarkan pada sistem klasifikasi menurut angkatan yang menyetarakan antara tingkatan keluarga ayah dan ibu sebagai orang tua dari generasi dibawahnya. Di samping itu dalam hubungan sosial dilandasi oleh nilai-nilai buaya Jawa dan nilai-nilai itu didasari prinsip: “seseorang harus bisa menmpatkan diri sesuai dengan kondisinya”, yang mempunyai makna sangat dalam. Konsep udaya yang bernilai tinggi adalah apabila manusia itu suka bekerja sama dengan sesamanya berdasakan rasa solidaritas yang besar. Biasanya disebut dengan nilai gotong royong.

Pada orang Jawa hampir tidak ada motivasi yang kuat untuk bekerja. Mereka bekrja sekedar untuk dapat hidup, mereka lebih suka mengosongkan hidup ini untuk menanti hidupnya di dunia akhirat kelak (Haryono,1993)

Mungkin hal yang satu ini menjadi kelemahan bagi orang jawa, yaitu tidak memiliki motivasi yang besar dalam hal bekerja, karena mereka bekerja hanya sekedar untuk dapat hidup. Tidak ada motivasi untuk mendapatkan yang lebih dari itu. Tetapi orang Jawa memiliki motivasi yang baik dalam membina hubungan sosial dengan orang lain. Mereka memiliki solidaritas yang tinggi dan menerpakan beberapa prinsip dalam hidup mereka.

B. BUDAYA SEBAGAI TRADISI DAN TRADISIONALISME DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA.

Kata budaya berasaldari terjemahan kultur. Kata kultur berati memelihara, mengolah dan mengerjakan. Dalam kaitan ini, cakupan budaya sangat luas seluas kehidupan manusia (Alijahbana dalam Endraswara, 2006, p.20). dan menurut Horton & Hunt, selain itu budaya adalah suatu sistem norma dan nilai ang terorganisasi yang menjadi pegangan bagi masyarakat tersebut.

Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milikk yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya menampakkan diri dalam suatu pola-pola bahasa dadn dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu (Mulyana & Rahmat, 2003, p.18).

Ada beberapa definisi dari kebudayaan yaitu :

  1. Kebudayaan sebagai suatu keseluruhan hidup manusia yang kompleks, meliputi hukum , seni, moral, adat istiadat, dan segala kecakaan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  2. Menekankan sejarah kebudayaan yang memandang kebudayaan sebagai warisan tradisi.
  3. Menekankan kebudayaan yang besifat normatif, yaitu kebudayaan dianggap sebagai cara dan aturan hidup manusia, seperti cita-cita, nilai dan tingkah laku.
  4. Pendekatan kebudayaan dari aspek psikologis, kebudayaan sebagai langkah penyesuaian diri manusia kepada lingkungan di sekitarnya.
  5. Kebudayaan dipandang sebagai struktur, yang membicarakan pola-pola dan organisasi kebudayaan serta fungsinya.
  6. Kebudayaan sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan. Kebudayaan adalah sesuatu yang membedakan manusia dan hewan, misalnya manusia pintar menggunakan simbol dalam komunikasi sedangkan hewan tidak (Endraswara, 2006, p.21)

Kalau ditarik ke dalam kerangka teoritis makna budaya sebagai tradisi dan tradisionalisme pada masyarakat Jawa merupakan suatu simpulan dari segi mana kita melihat budaya pada masyarakat Jawa. Kesanggupan masyarakat Jawa dalam menjaga nilai dan norma-norma sosial di dalam kehidupannya dalam era globalisasi dewasa ini adalah contoh fakta-fakta positif yang menggambarkan sikap kita terhadap kebudayaan Jawa atau cara pandang kita terhadap kebudayaan Jawa dalam menghadapi tantangan dan perubahan jaman. Sikap itu adalah sikap yang yakin dan sadar bahwa nilai-nilai dalam kebudayaan Jawa sungguh kuat dan elastis dalam menghadapi setiap tantangan jaman. Dengan kata lain pandangan itu secara teoritis lebih melihat budaya sebagai tradition; seluruh kepercayaan, anggapan, dan tingkah laku melembaga yang diwariskan dan diteruskan dari generasi ke generasi yang memberikan kepada masyarakatnya sistem norma untuk dipergunakan menjawab tantangan pada setiap perkembangn sosial. Ia bersifat dinamis; bila tidak dapat menjawab tantangan jaman, akan berubah secara wajar atau lenyap dengan sendirinya (Kamus Istilah Sosiologi: 1984:223).

Berbeda dengan cara pandang positif itu adalah sebaliknya cara pandang negatif: yaitu tradisionalisme; sikap atau pandangan memuji-muji secara berlebihan kebudayaan masa lampau. Sikap ini lebih didasari oleh sikap emosional, konvensional dan konservatif.

Kalau kita cermati, kedua sikap atau cara pandang itu sangat kontradiktif. Tapi bukankah kedua cara pandang ini selalu saja sama-sama hadir dan bersaing dalam kehidupan sosial- budaya masyarakat Jawa secara keseluruhan sekarang ini. Meskipun keduanya pun sama-sama memiliki tujuan dan tanggung jawab bersama dalam rangka pelestarian dan pengembangan kebudayaan Jawa. Dualisme itu mungkin dapat dipertegas; dengan membuat oposisi antara orang-orang tua yang Jawa dan orang-orang muda yang Jawa. Dibandingkan dengan orang muda Jawa mungkin orang-orang tua Jawa lebih bersikap emosional, konvensional dan bahkan cenderung tradisionalisme; karena itu mereka adalah pembela mati-matian nilai-nilai kebudayaan Jawa dan tanpa kenal kompromi.

Namun kecenderungan budaya sebagai tradisi inilah yang terus menerus mendarah daging ke masing-masing generasi keturunan karena dianggap lebih adaptif terhadap perubahan jaman.

C. ELASTISITAS SEBAGAI CIRI DARI BUDAYA MASYARAKAT JAWA

Elastisitas mempunyai makna kefleksibelan dan kemampuan sesuatu atas adanya gangguan atau input dari luar. Untuk lebih jelas kita bisa lihat pada contoh orang jawa yang mengikuti program transmigrasi ke luar jawa, dengan segala keterbatasan dan lingkungan yang masih asing, mereka telah menunjukan suatu prestasi kemampuan yang luar biasa. Mereka berhasil membaur dan beradaptasi dengan lingkungan serta penduduk sekitar.Apa yang dapat kita tarik sebagai kesimpulan dari cerita di atas adalah suatu fenomena yang realitasnya adalah bahwa orang Jawa dengan kebudayaannya dapat terus hidup (survival) meskipun jauh di perantauan dan dapat berdampingan serta melebur dengan masyarakat dan kebudayaan lain yang sama sekali berlainan karakternya. Hal ini membuktikan bahwa orang Jawa dan kebudayaan Jawa memiliki kemampuan untuk terus menerus hidup menyesuaikan diri dengan tantangan dan perubahan jaman.

Dengan kata lain mungkin sifat kebudayaan Jawa memang cukup elastis, sehingga dapat selalu lentur dan cair dalam menghadapi situasi dan tantangan apa pun. Bukankah hal seperti itu pun telah dibuktikan sejak lama melalui kehidupan komunitas transmigran asal Jawa di seluruh pelosok tanah air Indonesia bahkan Nusantara; yang selalu dapat bertahan untuk hidup mulai dengan keterbatasan sarana dan fasilitas, akan tetapi pada akhirnya dapat sukses dan kaya. Tapi yang selalu harus menjadi catatan dan patut dibanggakan, bahwa mereka selalu dapat hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial-budaya tempatan.

Dalam konteks pengembaraan budaya Jawa ke seluruh Indonesia maupun ke manca negara itu, akulturasi pun dengan demikian terus selalu terjadi antara budaya tempatan dengan budaya Jawa sebagai pendatang. Akan tetapi selalu saja dapat kita amati, bahwa nilai-nilai kejawaan tampaknya masih cukup jelas terlihat bahkan mendominasi.

Dengan demikian sekali lagi dapat disimpulkan, fakta-fakta di atas adalah sebuah fenomena yang membuktikan bahwa nilai-nilai kebudayaan Jawa selalu saja dapat beradaptasi di mana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Dan nilai-nilai itu adalah nilai-nilai yang mungkin saja seperti yang disebut oleh Frans Magnis Suseno sebagai prinsip rukun dan hormat. Mungkin karena sikap-sikap inilah orang jawa selalu dapat elastis, cair dan melebur dengan budaya tempatan di mana pun. Jadi dengan kata lain kebudayaan Jawa sudah cukup teruji menghadapi tantangan dan perubahan jaman dalam skala nasional, regional maupun global.

D. KESERASIAN HIDUP NILAI BUDAYA MASYARAKAT JAWA

Pencermatan lebih dalam atas materi yang telah disampaikan sebelumnya dapat ditarik suatu pemikiran bahwa sistem pengendalian yang paling utama pada masyarakat Jawa adalah menempatkan masyarakat beserta adat istiadatnya secara dominan yang menentukan arah perilaku individu-individu warganya. Otonomi individu beserta penampilan kepribadian nya memainkan peran agak sekunder. Kepentingan individu diserasikan secara harmonis dengan kepentingan kolektif atau masyarakat keseluruhan. Masyarakat Jawa dikategorikan dalam sistem budaya yang mengutamakan nilai keserasian hidup kolektif. Institusi sosial ada atau diadakan agar berfungsi untuk memainkan peran yang mengkontribusi kepada kepaduan formasi keseluruhan masyarakat yang utuh. Kebutuhan-kebutuhan individu dengan sendirinya akan terpenuhi langsung terkait dengan berfungsinyalembaga-lembaga sosial itu.

Perwujudan dari nilai keserasian hidup dapat dilihat dalam praktek kerja bersama yang disebut gotong royong. Kerukunan semacam ini didasari oleh empat sifat dasar manusia yakni simpati, keramahan, rasa keadilan dan kepentingan pribadi yang selaras dengan tatanan sosial menurut adat istiadat (Martindale,1978). Dengan demikian konsep keserasian hidup bermasyarakat di kalangan masarakat Jawa diwujudkan dalam nilai-nilai hormat dan rukun. Dalam konstelasi hidup serasi di mana “….setiap orang harus berikhtiar untuk bertindak sesuai, cocok, selaras, seirama dengan teladan yang telah diterapkan”(Lombard, 1996).

Berdasarkan cara berfikir tertentu, manusia jawa memandang nilai hormat dan rukun memiliki makna amat penting dan berharga dalam hubungan interaksi dengan sesamanya. Hildred Geertz menyatakan “…kedua-duanya bukan saja merupakan petunjuk moral yang mendasari tindak-tanduk kekeluargaan Jawa, melainkan malah merupakan pusat pengertian baginya. Yang pertama ialah sekelompok nilai yang berkenaan dengan pandangan. Kejawen tentang tata krama penghormatan, dan yang kedua adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan pengutamaan orang Jawa terhadap terpeliharanya penampilan sosial yang harmonis”. Hal-hal ini yang mendorong masyarakat Jawa untuk merealisasikan nilai sosial yang dibawanya sehingga dapat terwujud keserasian dan keharmonisan masyarakat.

KESIMPULAN

Argumentasi dan penemuan penemuan yang dikemukakan diatas berkesimpulan, bahwa yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa adalah ciri khasnya terletak dalam kemampuan luar biasa masyarakat Jawa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombang-gelombang kebudayaan yang datang dari luar, dan dalam banjir itu mempertahankan keasliannya. Kebudayaan Jawa katanya, justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam pencernaan masukan-masukan dari luar.

Pernyataan itu disampaikan Frans Magnis Suseno dalam kata pendahuluan bukunya yang sangat populer pada waktu itu (1984) Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Inti isi buku itu memang dapat dikatakan sebagai argumentasinya bahwa nilai-nilai “kejawaan”lah seperti prinsip rukun dan hormat yang menjadi sikap moral orang Jawa, yang selalu dipakainya untuk menghadapi segala tantangan dan perubahan jaman. Inti prinsip rukun adalah tuntutan untuk mencegah segala kelakuan yang bisa menimbulkan konflik terbuka. Tujuannya ialah keselarasan sosial dan keadaan yang rukun. Suatu keadaan disebut rukun, apabila semua pihak dalam kelompok berdamai satu sama lain. Sedangkan inti prinsip hormat adalah suatu tuntutan agar setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri selalu harus menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat kedudukannya

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kamus Istilah Sosiologi (1984). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Suseno, Frans Magnis (1984). Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.
  3. Suwito. 1982. Pengantar Awal Sosiolinguistik, Teori dan Problema. Surakarta llenary Offset.
  4. Halim, Amran. Editor. 1976. Polilik Bahasa Nasional.Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

July 1, 2009 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: