Wagoeblog’s Blog

Just another WordPress.com weblog

GERAKAN MAHASISWA


Mahasiswa adalah bagian dari bangsa dan rakyat yang sedang menempuh jenjang pendidikan tertinggi dan telah mengalami proses sosialisasi yang lengkap atas nilai-nilai dasar kemanusiaan dan etos penciptaan suatu bangsa. Sebagai kelompok muda perwakilan masyarakat yang berintelektualitas dan sehari-hari bergelut dengan realita kebenaran dalam kehidupan nasionalnya, mereka sudah seharusnya memiliki kesadaran penuh tentang nasib bangsa dan negara yang secara hakikat adalah suara rakyat. Hal ini membuat gerakan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa sering mewarnai proses perjuangan dinamika politik di Indonesia.

Peran signifikan dari gerakan mahasiswa ini dapat dilihat dari masa perjuangan kemerdekaan bangsa hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia dan era reformasi saat ini. Peran signifikan ini diberikan pada wahana pengawasan publik mahasiswa atas kebijaksanaan dan penyimpangan ideologi atas pemerintahan yang sedang terselenggara. Namun muncul suatu persepsi mengapa gerakan Mahasiswa Indonesia dalam mendorong perubahan sistem politik di Indonesia cenderung berjalan stagnan atau malah terjadi kemunduran , untuk melihat kenyataan tersebut mari kita tinjau gerakan mahasiswa di masa lalu dan sekarang.

Gerakan Mahasiswa Seiring Berjalannya Roda Waktu

Semenjak masa pejuangan kemerdekaan elah mewarnai lembar sejarah peristiwa di Indonesia, hal ini ditandai dengan munculnya suatu organisasi Boedi Oetomo yang dipelopori oleh mahasiswa STOVIA Jakarta. Munculnya organisasi ini membakar semangat para mahasiswa untuk mentorehkan semangat intelektualnya atas perwakilan rakyat sehingga bermunculan organisasi-organisasi lain seperti Perhimpunan Indonesia, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dll mendorong suatu gerakan ke arah kemerdekaan. Deretan peristiwa penting pun terjadi di Indonesia seperti peristiwa Rengasdengklok sampai Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Secara beruntutan pun terbentuk organisasi masyarakat dan politik sebagai bentuk kemauan mahasiswa untuk menyatu dengan suara rakyat serta membentuk suatu konsep pemenuhan kuasa politik untuk mengaspirasikan suara rakyat di kalangan elit politik.

Gerakan mahasiswa seakan tidak mengenal batas waktu dan era, dari peristiwa Malari (Lima belas Januari) yang berhasil mengalihkan kekuasaan orde lama ke tangan orde baru, sampai pada puncaknya peristiwa 1998 sebagai tonggak sejarah era reformasi yang berhasil menggulingkan pemerintahan Soeharto yang telah berkuasa secara otoriter selama kurang lebih 32 tahun.

Namun seiring berjalannya waktu organisasi gerakan sosial penggerak reformasi seolah luluh dalam gemuruh euphoria reformasi. Mahasiswa seolah-olah telah kehilangan peran jati diri mereka sebagaimana disebutkan oleh Arbi Sanit ada empat jati diri mahasiswa dalam kehidupan politik.[1] Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari. Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda.

Hal ini diperparah dengan tergerusnya mental mahasiswa saat ini yang hanyut akan sistematika sosial gaya hidup masyarakat saat ini yang cenderung hedonis dan konsumnis. Tak jarang bagi mahasiswa yang tidak hanyut dalam laju hedonisme dan konsumerisme telah hanyut pada sistem pendidikan diikuti aksesorisnya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi dan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan yang mengutamakan prestasi akademik dalam artian teoristis yang menitik beratkan prestasi pada kumpulan indeks angka sebagai parameter prestasi, yang secara tidak langsung telah mengekang kreatifitas dan suara moral dari mahasiswa, sehingga mahasiswa disibukkan dengan aktivitas kampus, belajar untuk memperoleh nilai tinggi, cepat lulus dan memperoleh pekerjaan. Asas gotong royong dan kepedulian pun telah tergantikan dengan nilai-nilai individualistik yang merupakan warisan dari kaum liberal kapitalis.

Ada sebagian mahasiswa yang tetap mempertahankan ideologinya namun hal ini pun terimbas dampak laju perkembangan politik saat ini. Golongan mahasiswa ini terpisah menjadi dua kelompok : pertama kelompok yang mengatasnamakan sebagai perwakilan gerakan moral yang bergerak melalui LSM atau non government organization untuk membentuk suatu kesadaran publik atas realita melalui pencintraan diskusi yang bersifat horisontal. Dan golongan yang Kedua kelompok yang mengatasnamakan sebagai perwakilan gerakan politik dari mahasiswa yang membentuk kesadaran publik atas realita melalui penempatan kadernya pada kursi jabatan sebagai tindakan sosialisasi yang bersifat vertikal. Kelompok ini memiliki pandangan bahwa dengan menempatkan kader mereka sebanyak mungkin pada kursi pemerintahan maka upaya dan tujuan reformasi dapat tercapai.

Polarisasi kelompok dan kepentingan ini tidak malah membuat perjuangan mahasiswa menjadi semakin kuat dan berwarna namun malah sebaliknya perbedaan pandangan dan ideologi telah memperlemah kekuatan gerakan mahasiswa Indonesia sebagai kaum intelektual bangsa.

Kompleksitas permasalahan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena peran mahasiswa sebagai kaum intelektual muda harus tetap ada sebagai poros terdepan pengawas publik sebagai perwakilan dari suara rakyat.

Apa yang harus dilakukan mahasiswa ke depannya?

Renovasi Gerakan adalah salah satu solusi yang sangat direkomendasikan untuk gerakan mahasiswa dalam menjawab tantangan atas dinamika sosial politik Indonesia. [2]Edwin Nofsan Naufal, Ketua BEM UI 2008 dalam artikelnya di Majalah Profetik edisi 1 di tahun 2009, yang berjudul “Revitalisasi Gerakan Mahasiswa”, menyatakan bahwa gerakan mahasiswa yang masih terhanyut euforia 1998 tampaknya tak banyak memperhatikan perubahan ini dan mengalami kesulitan beradaptasi hingga cenderung mempertahankan pola gerakan yang itu-itu saja: aksi massa, mobilisasi massa, extra-parliament movement tanpa memperhatikan efektifitas, tujuan yang dituju dan kejelian mempertimbangkan sarana lain yang lebih efektif. Dari ungkapan tersebut ada suatu arahan dimana diperlukan adanya perubahan pada pola pergerakkan mahasiswa ke depannya. Pola pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 dinilai sudah tidak efektif lagi dalam menarik perhatian untuk membentuk suatu kesadaran publik masyarakat. Tujuan semula pengerahan massa dan tindakan yang rawan menyentuh anarkis untuk menarik perhatian media dan masyarakat ternyata malah ditafsirkan sebagai gerakan negatif oleh media dan masyarakat. Orientasi masyarakat saat ini lebih berpandangan bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual masih banyak jalan perjuangan yang bisa ditempuh selain mobilisasi massa. Untuk itulah perlunya renovasi gerakan mahasiswa menuju gerakan mahasiswa yang peka dan mampu beradaptasi dengan dinamika sosial masyarakat.

Selain renovasi gerakan, integrasi gerakan pun dinilai sangat diperlukan oleh mahasiswa saat ini, karena bagaimana pun juga salah satu parameter keefektifitasan suatu gerak adalah kekuatan dan banyaknya dukungan atas nilai dan tujuan yang diusung dalam gerakan mahasiswa. Integrasi gerakan dinilai suatu hal yang penting untuk mencegah timbulnya opini publik bahwa gerakan mahasiswa merupakan gerakan yang ditunggangi oleh sekelompok poros kekuasaan atau kelompok opportunist. Integrasi gerakan ini dapat dilakukan dengan merapatkan barisan gerakan melalui penggabungan gerakan yang mengambil dasar sosialisasi horizontal dengan gerakan yang mengambil dasar sosialisasi vertikal. Hal ini dapat terjadi dengan peningkatan intensitas forum diskusi yang menyentuh nilai-nilai fakta pada masyarakat yang mengikut sertakan perwakilan dari berbagai golongan sosial untuk mencapai kesinergisan bersama dalam suatu gerakan moral yang beralaskan dukungan politik secara kuat.

[1]Arbi Sanit, Sistim Politik Indonesia,Jakarta, Penerbit CV Rajawali, 1981, hal.107-110.

[2] Edwin Nofsan Naufal,Revitalisasi gerakan, Majalah Profetik, Edisi 1 Tahun 2009.

July 1, 2009 - Posted by | politic

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: