Wagoeblog’s Blog

Just another WordPress.com weblog

GERAKAN MAHASISWA


Mahasiswa adalah bagian dari bangsa dan rakyat yang sedang menempuh jenjang pendidikan tertinggi dan telah mengalami proses sosialisasi yang lengkap atas nilai-nilai dasar kemanusiaan dan etos penciptaan suatu bangsa. Sebagai kelompok muda perwakilan masyarakat yang berintelektualitas dan sehari-hari bergelut dengan realita kebenaran dalam kehidupan nasionalnya, mereka sudah seharusnya memiliki kesadaran penuh tentang nasib bangsa dan negara yang secara hakikat adalah suara rakyat. Hal ini membuat gerakan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa sering mewarnai proses perjuangan dinamika politik di Indonesia.

Peran signifikan dari gerakan mahasiswa ini dapat dilihat dari masa perjuangan kemerdekaan bangsa hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia dan era reformasi saat ini. Peran signifikan ini diberikan pada wahana pengawasan publik mahasiswa atas kebijaksanaan dan penyimpangan ideologi atas pemerintahan yang sedang terselenggara. Namun muncul suatu persepsi mengapa gerakan Mahasiswa Indonesia dalam mendorong perubahan sistem politik di Indonesia cenderung berjalan stagnan atau malah terjadi kemunduran , untuk melihat kenyataan tersebut mari kita tinjau gerakan mahasiswa di masa lalu dan sekarang.

Gerakan Mahasiswa Seiring Berjalannya Roda Waktu

Semenjak masa pejuangan kemerdekaan elah mewarnai lembar sejarah peristiwa di Indonesia, hal ini ditandai dengan munculnya suatu organisasi Boedi Oetomo yang dipelopori oleh mahasiswa STOVIA Jakarta. Munculnya organisasi ini membakar semangat para mahasiswa untuk mentorehkan semangat intelektualnya atas perwakilan rakyat sehingga bermunculan organisasi-organisasi lain seperti Perhimpunan Indonesia, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dll mendorong suatu gerakan ke arah kemerdekaan. Deretan peristiwa penting pun terjadi di Indonesia seperti peristiwa Rengasdengklok sampai Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Secara beruntutan pun terbentuk organisasi masyarakat dan politik sebagai bentuk kemauan mahasiswa untuk menyatu dengan suara rakyat serta membentuk suatu konsep pemenuhan kuasa politik untuk mengaspirasikan suara rakyat di kalangan elit politik.

Gerakan mahasiswa seakan tidak mengenal batas waktu dan era, dari peristiwa Malari (Lima belas Januari) yang berhasil mengalihkan kekuasaan orde lama ke tangan orde baru, sampai pada puncaknya peristiwa 1998 sebagai tonggak sejarah era reformasi yang berhasil menggulingkan pemerintahan Soeharto yang telah berkuasa secara otoriter selama kurang lebih 32 tahun.

Namun seiring berjalannya waktu organisasi gerakan sosial penggerak reformasi seolah luluh dalam gemuruh euphoria reformasi. Mahasiswa seolah-olah telah kehilangan peran jati diri mereka sebagaimana disebutkan oleh Arbi Sanit ada empat jati diri mahasiswa dalam kehidupan politik.[1] Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari. Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda.

Hal ini diperparah dengan tergerusnya mental mahasiswa saat ini yang hanyut akan sistematika sosial gaya hidup masyarakat saat ini yang cenderung hedonis dan konsumnis. Tak jarang bagi mahasiswa yang tidak hanyut dalam laju hedonisme dan konsumerisme telah hanyut pada sistem pendidikan diikuti aksesorisnya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi dan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan yang mengutamakan prestasi akademik dalam artian teoristis yang menitik beratkan prestasi pada kumpulan indeks angka sebagai parameter prestasi, yang secara tidak langsung telah mengekang kreatifitas dan suara moral dari mahasiswa, sehingga mahasiswa disibukkan dengan aktivitas kampus, belajar untuk memperoleh nilai tinggi, cepat lulus dan memperoleh pekerjaan. Asas gotong royong dan kepedulian pun telah tergantikan dengan nilai-nilai individualistik yang merupakan warisan dari kaum liberal kapitalis.

Ada sebagian mahasiswa yang tetap mempertahankan ideologinya namun hal ini pun terimbas dampak laju perkembangan politik saat ini. Golongan mahasiswa ini terpisah menjadi dua kelompok : pertama kelompok yang mengatasnamakan sebagai perwakilan gerakan moral yang bergerak melalui LSM atau non government organization untuk membentuk suatu kesadaran publik atas realita melalui pencintraan diskusi yang bersifat horisontal. Dan golongan yang Kedua kelompok yang mengatasnamakan sebagai perwakilan gerakan politik dari mahasiswa yang membentuk kesadaran publik atas realita melalui penempatan kadernya pada kursi jabatan sebagai tindakan sosialisasi yang bersifat vertikal. Kelompok ini memiliki pandangan bahwa dengan menempatkan kader mereka sebanyak mungkin pada kursi pemerintahan maka upaya dan tujuan reformasi dapat tercapai.

Polarisasi kelompok dan kepentingan ini tidak malah membuat perjuangan mahasiswa menjadi semakin kuat dan berwarna namun malah sebaliknya perbedaan pandangan dan ideologi telah memperlemah kekuatan gerakan mahasiswa Indonesia sebagai kaum intelektual bangsa.

Kompleksitas permasalahan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena peran mahasiswa sebagai kaum intelektual muda harus tetap ada sebagai poros terdepan pengawas publik sebagai perwakilan dari suara rakyat.

Apa yang harus dilakukan mahasiswa ke depannya?

Renovasi Gerakan adalah salah satu solusi yang sangat direkomendasikan untuk gerakan mahasiswa dalam menjawab tantangan atas dinamika sosial politik Indonesia. [2]Edwin Nofsan Naufal, Ketua BEM UI 2008 dalam artikelnya di Majalah Profetik edisi 1 di tahun 2009, yang berjudul “Revitalisasi Gerakan Mahasiswa”, menyatakan bahwa gerakan mahasiswa yang masih terhanyut euforia 1998 tampaknya tak banyak memperhatikan perubahan ini dan mengalami kesulitan beradaptasi hingga cenderung mempertahankan pola gerakan yang itu-itu saja: aksi massa, mobilisasi massa, extra-parliament movement tanpa memperhatikan efektifitas, tujuan yang dituju dan kejelian mempertimbangkan sarana lain yang lebih efektif. Dari ungkapan tersebut ada suatu arahan dimana diperlukan adanya perubahan pada pola pergerakkan mahasiswa ke depannya. Pola pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 dinilai sudah tidak efektif lagi dalam menarik perhatian untuk membentuk suatu kesadaran publik masyarakat. Tujuan semula pengerahan massa dan tindakan yang rawan menyentuh anarkis untuk menarik perhatian media dan masyarakat ternyata malah ditafsirkan sebagai gerakan negatif oleh media dan masyarakat. Orientasi masyarakat saat ini lebih berpandangan bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual masih banyak jalan perjuangan yang bisa ditempuh selain mobilisasi massa. Untuk itulah perlunya renovasi gerakan mahasiswa menuju gerakan mahasiswa yang peka dan mampu beradaptasi dengan dinamika sosial masyarakat.

Selain renovasi gerakan, integrasi gerakan pun dinilai sangat diperlukan oleh mahasiswa saat ini, karena bagaimana pun juga salah satu parameter keefektifitasan suatu gerak adalah kekuatan dan banyaknya dukungan atas nilai dan tujuan yang diusung dalam gerakan mahasiswa. Integrasi gerakan dinilai suatu hal yang penting untuk mencegah timbulnya opini publik bahwa gerakan mahasiswa merupakan gerakan yang ditunggangi oleh sekelompok poros kekuasaan atau kelompok opportunist. Integrasi gerakan ini dapat dilakukan dengan merapatkan barisan gerakan melalui penggabungan gerakan yang mengambil dasar sosialisasi horizontal dengan gerakan yang mengambil dasar sosialisasi vertikal. Hal ini dapat terjadi dengan peningkatan intensitas forum diskusi yang menyentuh nilai-nilai fakta pada masyarakat yang mengikut sertakan perwakilan dari berbagai golongan sosial untuk mencapai kesinergisan bersama dalam suatu gerakan moral yang beralaskan dukungan politik secara kuat.

[1]Arbi Sanit, Sistim Politik Indonesia,Jakarta, Penerbit CV Rajawali, 1981, hal.107-110.

[2] Edwin Nofsan Naufal,Revitalisasi gerakan, Majalah Profetik, Edisi 1 Tahun 2009.

July 1, 2009 Posted by | politic | Leave a comment

MASYARAKAT JAWA

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di Asia dan dunia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi baik dari segi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan segi budaya baik yang berupa budaya fisik maupun yang langsung menyentuh pada sisi rohani setiap individu bangsa Indonesia.

Dinamika sosial yang terjadi di Indonesia dari masa keberadaan kerajaan-kerajaan lalu diikuti dengan masa kolonialisme sampai dengan saat ini peran dan keberadaan suku Jawa tidak dapat dipungkiri memiliki peran dan pengaruh yang cukup besar atas keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyarakat Jawa dengan adat istiadat serta nilai-nilai sosial yang diperkaya dengan norma-norma sosial yang tetap mendarah daging pada setiap individu masyarakat jawa ditengah gencatnya pengaruh globalisasi yang menyentuh segala aspek kehidupan baik berupa pengaruh fisis maupun non fisis.

Masyarakat Jawa yang berjumlah lebih dari 100 juta orang (menurut studi The Library of Congress – Country Studies) dari 220 juta penduduk Indonesia merupakan kaum mayoritas dari bangsa Indonesia yang tidak dapat dipungkiri memiliki prestasi yang luar biasa dalam mempertahankan warisan budayanya hingga beberapa keturunan yang tentunya memiliki pengaruh yang cukup besar pada interaksi sosial masyarakat Indonesia saat ini.

Tulisan ini bermaksud untuk mengemukakan uraian mengenai situasi Indonesia dengan keanekaragaman Indonesia yang memiliki daya pengaruh pada interaksi pada masing-masing budaya yang ada di Indonesia. Mengulas keberadaan Suku jawa dengan apa yang ada di dalamnya ,yang merupakan kaum mayoritas dari bangsa Indonesia

.

B. LANDASAN TEORI

Berpedoman pada Sociological Theory (Teori Sosiologi) dijelaskan bahwa proses sosialisasi yang berjalan secara bertahap pada suatu nilai-nilai sosial akan menimbulkan kontinuitas pada kejadian-kejadian yang berefek langsung ke dalam masyarakat baik efek fisis mupun non fisis. Hal ini kemudian menjadi pijakan utama dalam penulisan ini. Teori Sosiologi ini menempatkan masyarakat jawa sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan ras dunia yang memiliki nilai-nilai sosial tertentu yang berlaku dan mengalami sosialisasi secara bertahap. Sosialisasi bertahap dari nilai-nilai sosial yang tertanam pada masyarakat Jawa secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruhnya pada lingkungan sekitarnya.

C. RUMUSAN MASALAH

Pada penulisan ini, penulis mengajukan rumusan masalah mengenai Sistem kekeluargaan, kekerabatan serta pengelolaan masyarakat Jawa di Indonesia .

D. HIPOTESA

Pada penulisan ini, penulis mengambil kesimpulan sementara bahwa pada dasarnya Sistem kekeluargaan, kekerabatan serta pengelolaan masyarakat Jawa di Indonesia merupakan faktor yang membuat keberadaan dan keberlangsungan masyarakat Jawa tetap ada dan bertahan di Indonesia.

.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

A. MASYARAKAT JAWA SEBAGAI SUATU ETNIK DI INDONESIA

Etnik merujuk kepada bangsa manusia. Dari perkataan etnik terhasil perkataan etnologi yang merujuk kepada salah satu daripada cabang bidang sains antropologi, yang mengkaji rumpun bangsa manusia dan berbagai aspek kebudayaannya serta perhubungan antara satu bangsa dengan yang lain. Kumpulan etnik ialah sekumpulan manusia yang saling mengaitkan diri sendiri dengan sesamanya, biasanya atas sebab silsilah dan keturunan yang sama. Contohnya adalah budaya, kelakuan, bahasa atau agama.

Masyarakat Jawa sebagai suatu etnik di Indonesia, menurut Koentjaraningrat, dikatakan bahwa hakekat hidup orang Jawa pada dasarnya menganggap hidup sebagai rangkaian peristiwa yag penuh dengan kesengsaraan, dimana harus dijalakan dengan tabah dan pasrah. Mereka biasanya menerima keadaannya sebagai nasib. Selanjutnya tingkah laku dan adat sopan santun orang Jawa terhadap sesamanya sangat berorientasi kolateral. Bahwa merekan hidup tidak sendiri di dunia, maka mereka hidup saling tolong menolon, saling memberikan bantuannya. Mereka juga mengembangkan sikap tenggang rasa (tepo seliro), dan berlaku conform dengan sesamanya, selain itu mereka juga mengintensifkan solidaritas antara para anggota suatu kelompok kerabat (Haryono,1993)

Selain itu dalam budaya Jawa juga dikenal dengan nilai sosial, orang Jawa mengenal nilai kerukunan dimana dikatakan bahwa orang dalam budaya ini biasanya hidup rukun. Tujuan dari prinsip ini adalah untuk mempertahankan keadaan masyarakat ang harmonis. Atas nama prinsip ini maka orang Jawa berusaha untuk menghilangkan tanda-tanda ketegangan masyarakat atau antar pribadi, sehingga hubungan sosisal akan tamak harmonis dan baik, meskipun harmonis itu relatif sifatnya. Biasanya mereka akan menghindar dari konflik dengan cara membiarkan permasalahan itu berlalu atau dibatinkan. Spontanitas dalam memberikan reaksi dengan mengungkapkan diri dan mengambil posisi dianggap tidak etis, karena akan mengundang konflik. Keadaan rukun memuaskan bagi orang jawa, sekalipun itu kesan belaka yang tidak mencerminkan hakikatnya(Haryono 1993).

Menurut H.Geertz, 1983 mengatakan bahwa pada masyarakat Jawa, perkawinan merupakan suatu peristiwa yang harus terjadi dalam kehidupan seseorang.

Perkawinan di Jawa tidak dipandang semata-mata sebagai penggabungan dua jaringan keluarga yang luas, tetapi yang dipentingkan adalah pembentukan seuah rumah tangga sebagai unit yang berdiri sendiri. Pandangan ini jelas di dalam istilah “kawin” ialah omah-omah yang berasal dari kata omah atau rumah. Karena hanya sekedar untuk membentuk rumah tangga saja, maka meskipun secara ekonomi belum memadai dan masih tergantung paa orang tuanya, pasangan itu dapat dengan mudah memperoleh retu an dikawinkan oleh orang tuanya. Pemilihan calon pasangan merupakan urusan pribadi. Keluarga lebih-lebih keluarga besar tidak memegang peranan penting dalam pemilihan calon pasangannya.

Etnik Jawa memiliki ciri halus, ramah tamah, bersopan santun, sederhana, dan menghormati adat kebiasaan. Orang Jawa sangat terkenal sebagai suku bangsa yang sopan dan halus, tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasakan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulahh mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. Sistem kekeluargaan pada masyarakat Jawa didasarkan pada prinsip keturunan bilaeral, sistem istilah kekerabatan didasarkan pada sistem klasifikasi menurut angkatan yang menyetarakan antara tingkatan keluarga ayah dan ibu sebagai orang tua dari generasi dibawahnya. Di samping itu dalam hubungan sosial dilandasi oleh nilai-nilai buaya Jawa dan nilai-nilai itu didasari prinsip: “seseorang harus bisa menmpatkan diri sesuai dengan kondisinya”, yang mempunyai makna sangat dalam. Konsep udaya yang bernilai tinggi adalah apabila manusia itu suka bekerja sama dengan sesamanya berdasakan rasa solidaritas yang besar. Biasanya disebut dengan nilai gotong royong.

Pada orang Jawa hampir tidak ada motivasi yang kuat untuk bekerja. Mereka bekrja sekedar untuk dapat hidup, mereka lebih suka mengosongkan hidup ini untuk menanti hidupnya di dunia akhirat kelak (Haryono,1993)

Mungkin hal yang satu ini menjadi kelemahan bagi orang jawa, yaitu tidak memiliki motivasi yang besar dalam hal bekerja, karena mereka bekerja hanya sekedar untuk dapat hidup. Tidak ada motivasi untuk mendapatkan yang lebih dari itu. Tetapi orang Jawa memiliki motivasi yang baik dalam membina hubungan sosial dengan orang lain. Mereka memiliki solidaritas yang tinggi dan menerpakan beberapa prinsip dalam hidup mereka.

B. BUDAYA SEBAGAI TRADISI DAN TRADISIONALISME DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA.

Kata budaya berasaldari terjemahan kultur. Kata kultur berati memelihara, mengolah dan mengerjakan. Dalam kaitan ini, cakupan budaya sangat luas seluas kehidupan manusia (Alijahbana dalam Endraswara, 2006, p.20). dan menurut Horton & Hunt, selain itu budaya adalah suatu sistem norma dan nilai ang terorganisasi yang menjadi pegangan bagi masyarakat tersebut.

Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milikk yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya menampakkan diri dalam suatu pola-pola bahasa dadn dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu (Mulyana & Rahmat, 2003, p.18).

Ada beberapa definisi dari kebudayaan yaitu :

  1. Kebudayaan sebagai suatu keseluruhan hidup manusia yang kompleks, meliputi hukum , seni, moral, adat istiadat, dan segala kecakaan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  2. Menekankan sejarah kebudayaan yang memandang kebudayaan sebagai warisan tradisi.
  3. Menekankan kebudayaan yang besifat normatif, yaitu kebudayaan dianggap sebagai cara dan aturan hidup manusia, seperti cita-cita, nilai dan tingkah laku.
  4. Pendekatan kebudayaan dari aspek psikologis, kebudayaan sebagai langkah penyesuaian diri manusia kepada lingkungan di sekitarnya.
  5. Kebudayaan dipandang sebagai struktur, yang membicarakan pola-pola dan organisasi kebudayaan serta fungsinya.
  6. Kebudayaan sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan. Kebudayaan adalah sesuatu yang membedakan manusia dan hewan, misalnya manusia pintar menggunakan simbol dalam komunikasi sedangkan hewan tidak (Endraswara, 2006, p.21)

Kalau ditarik ke dalam kerangka teoritis makna budaya sebagai tradisi dan tradisionalisme pada masyarakat Jawa merupakan suatu simpulan dari segi mana kita melihat budaya pada masyarakat Jawa. Kesanggupan masyarakat Jawa dalam menjaga nilai dan norma-norma sosial di dalam kehidupannya dalam era globalisasi dewasa ini adalah contoh fakta-fakta positif yang menggambarkan sikap kita terhadap kebudayaan Jawa atau cara pandang kita terhadap kebudayaan Jawa dalam menghadapi tantangan dan perubahan jaman. Sikap itu adalah sikap yang yakin dan sadar bahwa nilai-nilai dalam kebudayaan Jawa sungguh kuat dan elastis dalam menghadapi setiap tantangan jaman. Dengan kata lain pandangan itu secara teoritis lebih melihat budaya sebagai tradition; seluruh kepercayaan, anggapan, dan tingkah laku melembaga yang diwariskan dan diteruskan dari generasi ke generasi yang memberikan kepada masyarakatnya sistem norma untuk dipergunakan menjawab tantangan pada setiap perkembangn sosial. Ia bersifat dinamis; bila tidak dapat menjawab tantangan jaman, akan berubah secara wajar atau lenyap dengan sendirinya (Kamus Istilah Sosiologi: 1984:223).

Berbeda dengan cara pandang positif itu adalah sebaliknya cara pandang negatif: yaitu tradisionalisme; sikap atau pandangan memuji-muji secara berlebihan kebudayaan masa lampau. Sikap ini lebih didasari oleh sikap emosional, konvensional dan konservatif.

Kalau kita cermati, kedua sikap atau cara pandang itu sangat kontradiktif. Tapi bukankah kedua cara pandang ini selalu saja sama-sama hadir dan bersaing dalam kehidupan sosial- budaya masyarakat Jawa secara keseluruhan sekarang ini. Meskipun keduanya pun sama-sama memiliki tujuan dan tanggung jawab bersama dalam rangka pelestarian dan pengembangan kebudayaan Jawa. Dualisme itu mungkin dapat dipertegas; dengan membuat oposisi antara orang-orang tua yang Jawa dan orang-orang muda yang Jawa. Dibandingkan dengan orang muda Jawa mungkin orang-orang tua Jawa lebih bersikap emosional, konvensional dan bahkan cenderung tradisionalisme; karena itu mereka adalah pembela mati-matian nilai-nilai kebudayaan Jawa dan tanpa kenal kompromi.

Namun kecenderungan budaya sebagai tradisi inilah yang terus menerus mendarah daging ke masing-masing generasi keturunan karena dianggap lebih adaptif terhadap perubahan jaman.

C. ELASTISITAS SEBAGAI CIRI DARI BUDAYA MASYARAKAT JAWA

Elastisitas mempunyai makna kefleksibelan dan kemampuan sesuatu atas adanya gangguan atau input dari luar. Untuk lebih jelas kita bisa lihat pada contoh orang jawa yang mengikuti program transmigrasi ke luar jawa, dengan segala keterbatasan dan lingkungan yang masih asing, mereka telah menunjukan suatu prestasi kemampuan yang luar biasa. Mereka berhasil membaur dan beradaptasi dengan lingkungan serta penduduk sekitar.Apa yang dapat kita tarik sebagai kesimpulan dari cerita di atas adalah suatu fenomena yang realitasnya adalah bahwa orang Jawa dengan kebudayaannya dapat terus hidup (survival) meskipun jauh di perantauan dan dapat berdampingan serta melebur dengan masyarakat dan kebudayaan lain yang sama sekali berlainan karakternya. Hal ini membuktikan bahwa orang Jawa dan kebudayaan Jawa memiliki kemampuan untuk terus menerus hidup menyesuaikan diri dengan tantangan dan perubahan jaman.

Dengan kata lain mungkin sifat kebudayaan Jawa memang cukup elastis, sehingga dapat selalu lentur dan cair dalam menghadapi situasi dan tantangan apa pun. Bukankah hal seperti itu pun telah dibuktikan sejak lama melalui kehidupan komunitas transmigran asal Jawa di seluruh pelosok tanah air Indonesia bahkan Nusantara; yang selalu dapat bertahan untuk hidup mulai dengan keterbatasan sarana dan fasilitas, akan tetapi pada akhirnya dapat sukses dan kaya. Tapi yang selalu harus menjadi catatan dan patut dibanggakan, bahwa mereka selalu dapat hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial-budaya tempatan.

Dalam konteks pengembaraan budaya Jawa ke seluruh Indonesia maupun ke manca negara itu, akulturasi pun dengan demikian terus selalu terjadi antara budaya tempatan dengan budaya Jawa sebagai pendatang. Akan tetapi selalu saja dapat kita amati, bahwa nilai-nilai kejawaan tampaknya masih cukup jelas terlihat bahkan mendominasi.

Dengan demikian sekali lagi dapat disimpulkan, fakta-fakta di atas adalah sebuah fenomena yang membuktikan bahwa nilai-nilai kebudayaan Jawa selalu saja dapat beradaptasi di mana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Dan nilai-nilai itu adalah nilai-nilai yang mungkin saja seperti yang disebut oleh Frans Magnis Suseno sebagai prinsip rukun dan hormat. Mungkin karena sikap-sikap inilah orang jawa selalu dapat elastis, cair dan melebur dengan budaya tempatan di mana pun. Jadi dengan kata lain kebudayaan Jawa sudah cukup teruji menghadapi tantangan dan perubahan jaman dalam skala nasional, regional maupun global.

D. KESERASIAN HIDUP NILAI BUDAYA MASYARAKAT JAWA

Pencermatan lebih dalam atas materi yang telah disampaikan sebelumnya dapat ditarik suatu pemikiran bahwa sistem pengendalian yang paling utama pada masyarakat Jawa adalah menempatkan masyarakat beserta adat istiadatnya secara dominan yang menentukan arah perilaku individu-individu warganya. Otonomi individu beserta penampilan kepribadian nya memainkan peran agak sekunder. Kepentingan individu diserasikan secara harmonis dengan kepentingan kolektif atau masyarakat keseluruhan. Masyarakat Jawa dikategorikan dalam sistem budaya yang mengutamakan nilai keserasian hidup kolektif. Institusi sosial ada atau diadakan agar berfungsi untuk memainkan peran yang mengkontribusi kepada kepaduan formasi keseluruhan masyarakat yang utuh. Kebutuhan-kebutuhan individu dengan sendirinya akan terpenuhi langsung terkait dengan berfungsinyalembaga-lembaga sosial itu.

Perwujudan dari nilai keserasian hidup dapat dilihat dalam praktek kerja bersama yang disebut gotong royong. Kerukunan semacam ini didasari oleh empat sifat dasar manusia yakni simpati, keramahan, rasa keadilan dan kepentingan pribadi yang selaras dengan tatanan sosial menurut adat istiadat (Martindale,1978). Dengan demikian konsep keserasian hidup bermasyarakat di kalangan masarakat Jawa diwujudkan dalam nilai-nilai hormat dan rukun. Dalam konstelasi hidup serasi di mana “….setiap orang harus berikhtiar untuk bertindak sesuai, cocok, selaras, seirama dengan teladan yang telah diterapkan”(Lombard, 1996).

Berdasarkan cara berfikir tertentu, manusia jawa memandang nilai hormat dan rukun memiliki makna amat penting dan berharga dalam hubungan interaksi dengan sesamanya. Hildred Geertz menyatakan “…kedua-duanya bukan saja merupakan petunjuk moral yang mendasari tindak-tanduk kekeluargaan Jawa, melainkan malah merupakan pusat pengertian baginya. Yang pertama ialah sekelompok nilai yang berkenaan dengan pandangan. Kejawen tentang tata krama penghormatan, dan yang kedua adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan pengutamaan orang Jawa terhadap terpeliharanya penampilan sosial yang harmonis”. Hal-hal ini yang mendorong masyarakat Jawa untuk merealisasikan nilai sosial yang dibawanya sehingga dapat terwujud keserasian dan keharmonisan masyarakat.

KESIMPULAN

Argumentasi dan penemuan penemuan yang dikemukakan diatas berkesimpulan, bahwa yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa adalah ciri khasnya terletak dalam kemampuan luar biasa masyarakat Jawa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombang-gelombang kebudayaan yang datang dari luar, dan dalam banjir itu mempertahankan keasliannya. Kebudayaan Jawa katanya, justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam pencernaan masukan-masukan dari luar.

Pernyataan itu disampaikan Frans Magnis Suseno dalam kata pendahuluan bukunya yang sangat populer pada waktu itu (1984) Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Inti isi buku itu memang dapat dikatakan sebagai argumentasinya bahwa nilai-nilai “kejawaan”lah seperti prinsip rukun dan hormat yang menjadi sikap moral orang Jawa, yang selalu dipakainya untuk menghadapi segala tantangan dan perubahan jaman. Inti prinsip rukun adalah tuntutan untuk mencegah segala kelakuan yang bisa menimbulkan konflik terbuka. Tujuannya ialah keselarasan sosial dan keadaan yang rukun. Suatu keadaan disebut rukun, apabila semua pihak dalam kelompok berdamai satu sama lain. Sedangkan inti prinsip hormat adalah suatu tuntutan agar setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri selalu harus menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat kedudukannya

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kamus Istilah Sosiologi (1984). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Suseno, Frans Magnis (1984). Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.
  3. Suwito. 1982. Pengantar Awal Sosiolinguistik, Teori dan Problema. Surakarta llenary Offset.
  4. Halim, Amran. Editor. 1976. Polilik Bahasa Nasional.Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

July 1, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

HUKUM SYAR’I BISNIS MULTI LEVEL MARKETING

Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali

Banyak pertanyaan seputar bisnis yang banyak diminati oleh khalayak ramai. Yang secara umum gambarannya adalah mengikuti program piramida dalam system pemasaran, dengan setiap anggota harus mencari anggota-anggota baru dan demikian terus selanjutnya. Setiap anggota membayar uang pada perusahaan dengan jumlah tertentu dengan iming-iming dapat bonus, semakin banyak anggota dan semakin banyak memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan.

Sebenarnya kebanyakan anggota Multi Level Marketing [MLM] ikut bergabung dengan perusahaan tersebut adalah karena adanya iming-iming bonus tersebut dengan harapan agar cepat kaya dengan waktu yang sesingkat mungkin dan bukan karena dia membutuhkan produknya. Bisnis model ini adalah perjudian murni, karena beberapa sebab berikut ini, yaitu :

[1]. Sebenarnya anggota Multi Level Marketing [MLM] ini tidak menginginkan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah penghasilan dan kekayaan yang banyak lagi cepat yan akan diperoleh setiap anggota hanya dengan membayar sedikit uang.

[2]. Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada perusahaan Multi Level Marketing [MLM].

[3]. Bahwa produk ini biasa dipindahkan oleh semua orang dengan biaya yang sangat ringan, dengan cara mengakses dari situs perusahaan Multi Level Marketing [MLM] ini di jaringan internet.

[4]. Bahwa perusahaan meminta para anggotanya untuk memperbaharui keanggotaannya setiap tahun dengan diiming-imingi berbagai program baru yang akan diberikan kepada mereka.

[5]. Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan personil secara estafet dan berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Up Line) sedangkan level bawah (Down Line) selalu memberikan nilai point pada yang berada di level atas mereka.

Berdasarkan ini semua, maka system bisnis semacam ini tidak diragukan lagi keharamannya, karena beberapa sebab yaitu :

[1]. Ini adalah penipuan dan manipulasi terhadap anggota
[2]. Produk Multi Level Marketing [MLM] ini bukanlah tujuan yang sebenarnya. Produk itu hanya bertujuan untuk mendapatkan izin dalam undang-undang dan hukum syar’i.
[3]. Banyak dari kalangan pakar ekonomi dunia sampai pun orang-orang non muslim meyakini bahwa jaringan piramida ini adalah sebuah permainan dan penipuan, oleh karena itu mereka melarangnya karena bisa membahayakan perekonomian nasional baik bagi kalangan individu maupun bagi masyarakat umum

Berdasarkan ini semua, tatkala kita mengetahui bahwa hukum syar’i didasarkan pada maksud dan hakekatnya serta bukan sekedar polesan lainnya. Maka perubahan nama sesuatu yang haram akan semakin menambah bahayanya karena hal ini berarti terjadi penipuan pada Allah dan RasulNya [1], oleh karena itu system bisnis semacam ini adalah haram dalam pandangan syar’i.

Kalau ada yang bertanya : Bahwasanya bisnis ini bermanfaat bagi sebagian orang. Jawabnya ; Adanya manfaat pada sebagian orang tidak bisa menghilangkan keharamannya, sebagaimana di firmankan oleh Allah Ta’ala.

Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah : Pada hakekatnya itu terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya [Al-Baqarah : 219]

Tatkala bahaya dari khamr dan perjudian itu lebih banyak daripada menfaatnya, maka keduanya dengan sangat tegas diharamkan.

Kesimpulannya :

Bisnis Multi Level Marketing [MLM] ini adalah alat untuk memancing orang-orang yang sedang mimpi di siang bolong menjadi jutawan. Bisnis ini adalah memakan harta manusia dengan cara yang bathil, juga merupakan bentuk spekulasi. Dan spekulasi adalah bentuk perjudian.

Diterjemahkan dari situs http://www.alhelaly.com

———————————————————————

FATWA MARKAZ IMAM AL-ALBANI TENTANG MULTI LEVEL MARKETING [MLM]

Berikut ini adalah teks fatwa Markaz Imam Al-Albani, yang ditanda tangani oleh para masyayaikh murid-murid Imam Al-Albani :

Banyak pertanyaan yang datang kepada kami dari berbagai penjuru tentang hukum bergabung dengan PT perusahaan bisnis dan perusahaan modern semisalnya yang menggunakan system piramida. Yang mana bisnis ini secara umum dijalankan dengan cara menjual produk tertentu serta membayar uang dalam jumlah tertentu tiap tahun untuk bisa tetap menjadi anggotanya. Yang mana karena dia telah mempromosikan system bisnis ini maka kemudian pihak perusahaan akan memberikan uang dalam jumlah tertentu yang terus bertambah sesuai dengan hasil penjualan produk dan perekrutan anggota baru.

Jawaban
Bergabung menjadi anggota PT semacam ini untuk mempromosikannya yang selalu terkait dengan pembayaran uang dengan menunggu bisa merekrut anggota baru serta masuk dalam system bisnis piramida ini hukumnya haram, karena seorang anggota jelas-jelas telah membayar uang tertentu demi memperoleh uang yang masih belum jelas dalam jumlah yang lebih besar.

Dan ini tidak bisa diperoleh melainkan secara kebetulan ia sedang bernasib baik, yang mana sebenarnya tidak mampu diusahakan oleh si anggota tersebut. Ini adalah murni sebuah bentuk perjudian berdasarkan beberapa kaedah para ulama. Wallahu Al-Muwaffiq.

Amman al-Balqo’ Yordania
26 Sya’ban 1424H

Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi
Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman

Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 11 Tahun III/Jumadi Tsani 1425

February 6, 2009 Posted by | religi | Leave a comment

Golput dan Alienasi Politik

PDF Cetak E-mail

KONTROVERSI soal golput kembali mengemuka. Kekhawatiran melonjaknya golput dalam pemilu 2009 makin besar ketika kita lihat data-data golput dalam pilkada pilkada tingkat provinsi dan kabupaten/ kota yang mencapai 40-an persen.

Rendahnya partisipasi pemilih ini sebenarnya kelanjutan dari fenomena pemilu 2004. Dalam pemilu legislatif 1999, persentase voter turn-out (pemilih yang menggunakan hak pilihnya) sekitar 92%, tapi pemilu legislatif 2004 turun menjadi 84%. Pilpres 2004 putaran pertama tingkat turn-out turun hingga 79%, bahkan putaran kedua, tingkat partisipasi hanya mencapai kisaran 76%. Golput tidaklah monolitik. Secara umum, ada tiga bentuk golput.

Pertama, golput teknis yang disebabkan tidak jelinya penyelenggara pemilu dalam mendata pemilih, sehingga banyak potensi pemilih yang tidak terdaftar. Atau, kartu pemilih yang tidak sampai ke tangan pemilih hingga waktu yang ditentukan. Kedua, golput pragmatis. Ketiga, golput ideologis yang disebabkan oleh alasan bahwa pemilu tidak ada gunanya.

Variasi golput tersebut di atas terlihat dari survei yang diadakan LP3ES pascapilkada di Jakarta tahun 2007. Dari total jumlah responden sebanyak 1128 orang, 74,8% responden menyatakan golput karena alasan individual-sosial. Perinciannya,18,4% karena keluar kota atau liburan, 17,8% karena malas, 27,8% karena ada urusan pekerjaan dan 10,8% karena sakit. Sementara hanya 25,2% karena persoalan kontekstual-sistemik.

Perinciannya, 3,3% karena kesalahan administratif,8,7% karena problem ketidakpercayaan terhadap struktur, dan 13,2% karena isu-isu negatif tentang pilkada.

Golput dan Segmen Pemuda

Secara teoritik, kenaikan jumlah golput dipicu meluasnya perasaan alienasi politik bahwa pemilu tidak terkait dengan kepentingan pragmatis pemilih. Efikasi politik yang rendah terhadap proses-proses politik, termasuk masalah pemilu, membuat mereka merasa bahwa pilihan suara mereka tidak bakal mengubah keadaan.

Rendahnya efikasi politik biasanya menjangkiti segmen pemilih pemuda. Pemilih pemuda secara umum terbagi menjadi dua.Pertama, kelompok apatis atau apolitis. Kelompok ini biasanya teralienasi dari sistem atau proses politik yang ada.

Kedua, kelompok pemuda yang rasional atau kritis. Karakteristik pemuda yang rasional atau kritis bisa berujung pada dua hal: golput atau memilih partai,tapi ?gampang pindah ke lain hati?.

Pilihan golput biasanya bukan didasarkan pada alasan yang remeh-temeh atau alasan administratif, tapi benar-benar atas kesadaran bahwa pemilu dianggap gagal melahirkan proses rekrutmen politik yang baik. Jika kelompok pemuda kritis ini berketetapan menggunakan hak pilihnya, mereka tidak gampang dibujuk dengan slogan dan janji.

Mereka menilai secara kritis program partai dan menitikberatkan pada isu ketimbang pencitraan.Kelompok ini bisa diklasifikasikan sebagai swing voters yang mudah mengalihkan dukungan ke partai lain yang dianggap lebih aspiratif terhadap kepentingan rakyat.

Alienasi terhadap Partai Politik

Relasi partai dengan massa pemilih biasanya diukur melalui dua dimensi, yaitu identifikasi diri dengan partai (dimensi afeksi) dan evaluasi massa pemilih atas fungsi intermediasi partai (dimensi rasional) (Biorcio dan Mannheimer,1995).

Dalam ilmu politik, identifikasi dengan partai disebut dengan istilah party identification (party id), yakni perasaan seseorang bahwa partai tertentu adalah identitas politiknya, bahwa ia mengidentikkan diri sebagai orang partai tertentu, atau bahwa ia merasa dekat dengan partai politik tertentu. Sementara intermediasi partai berbentuk evaluasi pemilih terhadap fungsi penghubung atau perantara aspirasi publik. Party id lebih didorong oleh alasan-alasan emosional dan psikologis, sementara dimensi intermediasi lebih bersifat rasional. Dalam konteks ini,terdapat empat jenis hubungan massa pemilih dengan partai politik (Mujani, 2007).

Pertama, hubungan bersekutu. Dalam kelompok ini, massa pemilih dan partai politik memiliki hubungan yang bersifat emosional sekaligus rasional. Mereka memiliki tingkat party id yang besar,dan hasil evaluasi mereka terhadap fungsi intermediasi partai bersifat positif. Kedua, tipe pemilih loyal. Artinya, pemilih loyal memiliki party id yang kuat dan hubungan emosional dengan partai yang positif, tapi mengabaikan evaluasi terhadap fungsi intermediasi partai.

Meskipun partai gagal melakukan fungsinya dalam mengagregasi kepentingan rakyat, pemilih loyal akan tetap mencoblos partai tersebut. Ketiga, pemilih terasing. Biasanya kelompok ini tidak memiliki hubungan emosional dengan partai, party id rendah, serta menilai negatif fungsi partai politik. Keempat, massa pragmatis yang dicirikan oleh minimnya kedekatan psikologis dengan partai, tapi bersifat pragmatis.

Mereka akan memilih partai asalkan partai yang bersangkutan dianggap mampu menjadi perantara kepentingan mereka dan juga sebaliknya. Karakteristik pemilih pada kategori ini lebih rasional dan kritis.

Pemuda sebagian besar masuk kategori pemilih terasing dan pragmatis. Pemilih terasing biasanya cenderung golput,sementara pemilih pragmatis akan lebih kritis dan rasional menilai partai politik. Jika partai dianggap gagal menyalurkan aspirasi mereka, maka mereka akan golput.Tetapi apabila partai dianggap mampu mengagregasi kepentingan mereka, maka mereka akan memilih partai tersebut.

Di atas segalanya, potensi golput jugadimungkinkanolehgejala election fatigue (kelelahan berpartisipasi). Berbeda dengan pemilu 2004 di mana kita belum menjalankan pilkada, pemilu 2009 akan berlangsung di tengah fakta bahwa masyarakat telah disibukkan dengan pilkada pada dua tahun belakangan ini. Setidaknya, pemilih telah berpartisipasi dalam pilkada di tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Itu pun belum termasuk di daerah yang harus menyelenggarakan pilkada putaran kedua, atau ?putaran ketiga? untuk kasus Sampang dan Bangkalan dalam pilkada Jatim.

Belum lagi pemilihan di tingkat desa/kelurahan. Besarnya potensi golput ini harus disikapi dengan bijak dengan cara ?memaksa? parpol untuk berbenah memperbaiki performanya.KPU juga harus lebih masif menyosialisasikan pentingnya pemilu. Selain itu,mulai dipikirkan desain institusional baru untuk mengatasi kelelahan berpartisipasi sehingga dapat memacu partisipasi pemilih dalam pemilu.(*)

*Artikel ini pernah dimuat di Koran Sindo Edisi Rabu 7 Januari 2009 ditulis oleh Burhanuddin Muhtadi

Continue reading

February 5, 2009 Posted by | politic | Leave a comment

Pentingnya Pendidikan Politik di Indonesia

PENDIDIKAN POLITIK

Seorang anak kecil bertanya kepada bapaknya: “Bapak, bisakah menerangkan, apa arti “politik” itu?”

Bapaknya menjawab: “Tentu akan aku terangkan.

Ambillah contoh keluarga kita sendiri : * ketika Ayah pulang ke rumah membawa uang, maka aku bisa disebut Kapitalis.

* Ibumu yang membelanjakan uang itu, kita sebut ibumu itu Pemerintah.

* Kita berdua mengurusmu, maka kamu ibarat sebagai Rakyatnya.

* Sedang pembantu rumah tangga kita, kita namai Buruhnya.

* Satpam kita yang jaga malam, itu ibarat Militernya.

* Dan adikmu yang masih pakai popok itu sebagai generasi masa depan. Sudah mengerti?” tanya bapaknya. Anak kecil itu masih belum jelas benar, keburu dia segera pergi tidur.

Pada tengah malam, dia terbangun karena adiknya menangis. Dia bangun dan mengetuk pintu kamar orang tuanya. Namun anak kecil itu tak mendapati orang tuanya di kamarnya. Lalu dia pergi ke kamar tidur pembantu, betapa kecewanya ternyata bapaknya sedang tidur bersama pembantu. Dengan frustrasi anak kecil itu akan melapor ke pos jaga satpam di halaman rumah, di dapati ibunya sedang bermain dengan satpamnya. Anak kecil itu kemudian tidur lagi.

Esok harinya, bapaknya bertanya pada anaknya, apakah kiranya bisa diterangkan arti politik dalam bahasa kamu sendiri?

Anak kecil itu menjawab: “Ya, sekarang saya tahu. Kapitalis ngerjain buruhnya.

Sementara pemerintah berkolusi dengan militernya. Rakyat benar-benar tidak tahu. Dan masa depannya hancur.

we must be aware of our condition my youth..you mustn’t be trapped on the hedonism life style., cz neraka dan kehancuran itu dekat dengan kenikmatan dan kesenangan dunia…bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mencari kelemahannya untuk dijadikan pondasi untuk melangkah lebih tinggi. Marilah kita  bangkit bersama menjadi bangsa yang mempunyai visi yang beriaskan aksi, karena aksi tanpa visi bagaikan orang buta berjalan di tengah jalan raya, dan visi tanpa aksi bagai mimpi yang terus terngiang dalam angan-angan kita

February 5, 2009 Posted by | politic | Leave a comment

Sejarah Bangsa Israel



Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan nama Israel. Terutama setelah penyerangan besar-besaran. Sebenarnya siapa bangsa Israel itu? Nama Yahudi barangkali diambil dari Yehuda. Yehuda adalah salah seorang putra nabi Yakub (Kejadian 29: 22) yang kemudian hari dijadikan nama salah satu kerajaan Israel yang pecah menjadi dua, setelah Solomon (Sulaiman) meninggal (1 Raja-Raja 12). Sedangkan nama Israel adalah nama yang diberikan Tuhan kepada Yakub, setelah Yakub memenangkan pergulatan melawan Tuhan (Kejadian 32:28). Karena dosa-dosanya yang sudah tidak termaafkan lagi, bangsa Israel ini dihukum oleh Tuhan dengan menghancurkan kerajaan yang mereka miliki (2 Raja-Raja 17:7-23). Bangsa Yahudi sangat terobsesi oleh kitab suci mereka, bahwa hanya merekalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Tuhan untuk menguasai dunia ini. Bukankah Tuhan juga yang menyatakan kepada nenek moyang mereka Ibrahim, bahwa dari keturunan Ibrahimlah Tuhan akan menurunkan raja-raja didunia ini. Bagi mereka, keturunan Ibrahim hanyalah anak cucu yang lahir dari Sarah, isteri pertama Ibrahim, sehingga keberadaan Ismael anak sulung Ibrahim dari Hajar, dianggap tidak ada. Atas kecongkakkan dan kesombongan ini, Tuhan murka kepada bani Israel. Beratus-ratus tahun mereka menjadi warga negara kelas kambing yang tertindas di negeri Firaun. Setelah Musa berhasil membawa mereka keluar dari Mesir, bangsa Israel sempat mempunyai kerajaan yang dibangun oleh Daud dan mencapai masa keemasannya ditangan Solomon. Kerajaan yang kemudian pecah menjadi dua karena intrik anak-anak Solomon, lalu menjadi lemah dan akhirnya mereka dijajah oleh Firaun Nekho (2 Raja-Raja 23:31-35). Diusir sebagai orang buangan oleh Nebukadnezar bangsa Babilonia (2 Raja-Raja 25:1-21). Dijajah oleh Romawi. Dimusnahkan oleh Nazi, Jerman. Kesemuanya itu adalah hukuman Tuhan, kepada bangsa yang oleh Yesus (Isa al Masih) disebut sebagai keturunan bangsa ular beludak (Matius 23:33). Hukuman tersebut tidak membuat mereka jera, dan bertobat. Malah menjadikan dendam kesumat dihati bangsa ini untuk melawan Tuhan, Allah Maha Pencipta. Kecongkakkan mereka dengan menganggap diri sebagai bangsa pilihan Tuhan satu-satunya yang berhak memerintah dunia ini, membuat mereka dengan sombongnya bersumpah, untuk memerangi agama lain selain agama mereka dengan segala cara, persis ketika Iblis bersumpah kepada Tuhan untuk memperdayai anak cucu Adam, sampai dunia kiamat nanti. Tuhanpun memperingatkan ummat Islam, melalui Al-Quran untuk berhati-hati terhadap tipu daya Yahudi ini. Pegangan mereka adalah kitab Talmud. Yang merupakan kitab setan, karena sangat jauh menyimpang, bahkan mungkin bertolak belakang dengan ajaran Taurat. Nabi Daud AS, yang juga raja, menaklukkan bukit Zion yang merupakan benteng dari kaum Yabus. Nabi Daud AS tinggal di benteng itu dan diberinya nama: “bandar Daud” (Samuel II 5:7-9) Sejak itu maka Zion menjadi tempat suci, dikeramatkan orang-orang Yahudi yang mereka percayai bahwa Tuhan tinggal di tempat itu: “Indahkanlah suaramu untuk Tuhan Yang menetap di Zion” (Mazmur 9:11). Zionisme ialah gerakan orang-orang Yahudi yang bersifat ideologis untuk menetap di Palestina, yakni di bukit Zion dan sekitarnya. Walaupun Nabi Musa AS tidak sampai pernah menginjakkan kaki beliau di sana, namun orang-orang Yahudi menganggap Nabi Musa AS adalah pemimpin pertama kaum Zionis. Untuk mencapai cita-citanya, Zionisme membangkitkan fanatisme kebangsaan (keyahudian), keagamaan dengan mempergunakan cara kekerasan untuk sampai kepada tujuannya. Zionisme memakai beberapa tipudaya untuk mengurangi dan menghilangkan sama sekali penggunaan kata “Palestina”, yakni mengganti dengan perkataan-perkataan lain yang berkaitan dengan sejarah bangsa Yahudi di negeri itu. Digunakanlah nama “Israel” untuk negara yang telah didirikan oleh mereka, sebab Zionisme di Palestina identik dengan kekerasan, kezaliman dan kehancuran. Kaum Zionis mengambil nama Israel adalah untuk siasat guna mengelabui dan menipu publik, bahwa negara Israel itu tidak akan menggunakan cara-cara yang biasa digunakan oleh kaum Zionis. Pada hal dalam hakikatnya secra substansial tidaklah ada perbedaan sama sekali antara Israel dengan Zionisme. Israel sendiri berasal dari dua kata, isra mempunyai arti hamba, dan ell berarti Allah. Secara substansial protokol Zionisme adalah suatu konspirasi jahat terhadap kemanusiaan. Protokol berarti pernyataan jika dinisbatkan kepada para konseptornya, dan berarti laporan yang diterima serta didukung sebagai suatu keputusan jika dikaitkan pada muktamar di Bale, Switzerland, tahun 1897, yang diprakarsai oleh Teodor Herzl. . Protokol-protokol itu yang sebagai dokumen rahasia disimpan di tempat rahasia, namun beberapa diantaranya dibocorkan oleh seorang nyonya berkebangsaan Perancis yang beragama Kristen dalam tahun 1901. Dalam perjumpaan nyonya itu dengan seorang pemimpin teras Zionis di rumah rahasia golongan Mesonik di Paris, nyonya itu sempat melihat sebagian dari protokol-protokol itu. Nyonya itu sangat trperanjat setelah membaca isinya. Ia berhasil mencuri sebagian dari dokumen rahasia itu, yang disampaikannya kepada Alex Nikola Nivieh, ketua dinas rahasia Kekaisaran Rusia Timur. Sebagian kecil dari protokol-protokol Zionisme itu akan disampaikan seperti berikut: 1. Manusia terbagi atas dua bagian, yaitu Yahudi dan non-Yahudi yang disebut Joyeem, atau Umami. Jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni. Kaum Umami berasal-usul dari syaithan, dan tujuan penciptan Umami ini untuk berkhidmat kepada kaum Yahudi. Jadi kaum Yahudi merupakan pokok dari anasir kemanusiaan sedangkan kaum Umami adalah sebagai budak Yahudi. Kaum Yahudi boleh mencuri bahkan merampas harta benda kaum Umami, boleh menipu mereka, berbohong kepada mereka, boleh menganiaya, boleh membunuh serta memperkosa mereka. Sesungguhnya tabiat asli kaum Yahudi ini bukan hanya ada disebutkan dalam protokol dokumen rahasia Zionis tersebut, melainkan ini adalah warisan turun temurun sejak cucu Nabi Ibrahim AS dari jalur Nabi Ishaq AS ini mulai mengalami dekadensi (baca: busuk ke dalam), yaitu sepeninggal Nabi Sulaiman AS. Ini diungkap dalam Al Quran (transliterasi huruf demi huruf): QALWA LYS ‘ALYNA FY ALAMYN SBYL (S. AL ‘AMRAN, 75), dibaca: qa-lu- laysa ‘alayna- fil ummiyyi-na sabi-l (s. ali ‘imra-n), artinya: mereka berkata tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (3:75). 2. Protokol Zionisme tentang faham jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni, sangatlah menyimpang dari syari’at yang dibawakan oleh Nabi Musa AS. Mereka yang menyimpang inilah yang dimaksud dengan almaghdhu-b, artinya yang dimurkai dalam Surah Al Fa-tihah ayat 7. 3. Protokol-protokol Zionisme itu merancang juklatnya dengan menye-barkan faham-faham yang bermacam-macam. Faham yang mereka tebarkan berbeda dari masa ke masa. Suatu waktu mempublikasikan sekularisme kapitalisme, suatu waktu menebar atheisme komunisme, suatu waktu berse-lubung agnostik sosialisme. Untuk menebarkan pengaruh internasional, protokol-protokol itu antara lain berisikan perencanaan keuangan bagi kerajaan Yahudi Internasional yang menyangkut mata uang, pinjaman-pinjaman, dan bursa. Media surat kabar adalah salah satu kekuatan besar dan melalui jalan ini akan dapat memimpin dunia. Manusia akan lebih mudah ditundukkan dengan bencana kemiskinan daripada ditundukkan oleh undang-undang. Pada tahun 1902 dokumen rahasia Zionis itu diterbitkan dalam bentuk buku berbahasa Rusia oleh Prof. Nilus dengan judul ‘PROTOKOLAT ZIONISME’. Dalam kata pengantarnya Prof. Nilus berseru kepada bangsanya agar berhati-hati akan satu bahaya yang belum terjadi. Dengan seruan itu terbongkarlah niat jahat Yahudi, dan hura-hura pun tak bisa dikendalikan lagi, dimana saat itu telah terbantai lebih kurang 10.000 orang Yahudi. Theodor Herzl, tokoh Zionis Internasional berteriak geram atas terbongkarnya Protokolat mereka yang amat rahasia itu, karena tercuri dari pusat penyim-panannya yang dirahasiakan, dan penyebar-luasannya sebelum saatnya akan membawa bencana. Peristiwa pembantaian atas orang-orang Yahudi itu mereka rahasiakan. Lalu mereka ber-gegas membeli dan memborong habis semua buku itu dari toko-toko buku. Untuk itu, mereka tidak segan-segan membuang beaya apa saja yang ada, seperti ; emas, perak, wanita, dan sarana apa saja, asal naskah-naskah itu bisa disita oleh mereka. . Mereka menggunakan semua pengaruhnya di Inggris, supaya Inggris mau menekan Rusia untuk menghentikan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi di sana. Semua itu bisa terlaksana setelah usaha yang amat berat. Pada tahun 1905 kembali Prof. Nilus mencetak ulang buku itu dengan amat cepat dan mengherankan. Pada tahun 1917 kembali dicetak lagi, akan tetapi para pendukung Bolshvic menyita buku protokolat itu dan melarangnya sampai saat ini. Namun sebuah naskah lolos dari Rusia dan diselun-dupkan ke Inggris oleh seorang wartawan surat kabar Inggris ‘The Morning Post’ yang bernama Victor E.Mars dan dalam usahanya memuat berita revolusi Rusia. Ia segera mencarinya di perpustakaan Inggris, maka didapatinya estimasi tentang akan terjadinya revolusi komunis. Ini sebelum lima belas tahun terjadi, yakni di tahun 1901. Kemudian wartawan itu menterjemahkan Protokolat Zionis itu ke dalam bahasa Inggris dan dicetak pada tahun 1912. Hingga kini tidak ada satu pun penerbit di Inggris yang berani mencetak Protokolat Zionis itu, karena kuatnya pengaruh mereka di sana. Demikian pula terjadi di Amerika. Kemudian buku itu muncul dicetak di Jerman pada tahun 1919 dan tersebar luas ke beberapa negara. Akhirnya buku itu diterjemah-kan ke dalam bahasa Arab, antara lain oleh Muhammad Khalifah At-Tunisi dan dimuat dalam majalah Mimbarusy-Syarq tahun 1950. Perlu diketahui, bahwa tidak ada orang yang berani mempublikasikan Protokolat itu, kecuali ia berani menghadapi tantangan dan kritik pedas pada koran-koran mereka, sebagaimana yang dialami oleh penerjemah ke dalam bahasa Arab yang dikecam dalam dua koran berbahasa Perancis yang terbit di Mesir. Setelah melalui proses yang amat panjang akhirnya pada 14 Mei 1948 silam, kaum Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel. Dengan kemerdekaan ini, cita-cita orang orang Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk mendirikan negara sendiri, tercapai. Mereka berhasil melaksanakan “amanat” yang disampaikan Theodore Herzl dalam tulisannya Der Judenstaat (Negara Yahudi) sejak 1896. Tidaklah mengherankan jika di tengah-tengah negara-negara Timur Tengah yang mayoritas menganut agama Islam, ada sekelompok manusia yang berkebudayaan dan bergaya hidup Barat. Mereka adalah para imigran Yahudi yang didatangkan dari berbagai negara di dunia karena mengalami pembantaian oleh penguasa setempat. Sejak awal Israel sudah tidak diterima kehadirannya di Palestina, bahkan di daerah mana pun mereka berada. Karena merasa memiliki keterikatan historis dengan Palestina, akhirnya mereka berbondong-bondong datang ke Palestina. Imigrasi besar-besaran kaum Yahudi ini terjadi sejak akhir tahun 1700-an. Akibat pembantaian diderita, maka mereka merasa harus mencari tempat yang aman untuk ditempati. Oleh Inggris mereka ditawarkan untuk memilih kawasan Argentina, Uganda, atau Palestina untuk ditempati, tapi Herzl lebih memilih Palestina. Herzl adalah The Founding Father of Zionism. Dia menggunakan zionisme sebagai kendaraan politiknya dalam merebut Palestina. Kemampuannya dalam melobi para penguasa dunia tidak diragukan lagi. Sederetan orang-orang terkenal di dunia seperti Paus Roma, Kaisar Wilhelm Jerman, Ratu Victoria Inggris, dan Sultan Turki di Istambul telah ditaklukkannya. Zionisme adalah otak dalam perebutan wilayah Palestina dan serangkaian pembantaian yang dilakukan Yahudi. Dengan berdatangannya bangsa Yahudi ke Palestina secara besar-besaran, menyebabkan kemarahan besar penduduk Palestina. Gelombang pertama imigrasi Yahudi terjadi pada tahun 1882 hingga 1903. Ketika itu sebanyak 25.000 orang Yahudi berhasil dipindahkan ke Palestina. Mulailah terjadi perampasan tanah milik penduduk Palestina oleh pendatang Yahudi. Bentrokan pun tidak dapat dapat dihindari. Kemudian gelombang kedua pun berlanjut pada tahun 1904 hingga 1914. Pada masa inilah, perlawanan sporadis bangsa Palestina mulai merebak. Berdasarkan hasil perjanjian Sykes Picot tahun 1915 yang secara rahasia dan sepihak telah menempatkan Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris. Dengan berlakunya sistem mandat atas Palestina, Inggris membuka pintu lebar-lebar untuk para imigran Yahudi dan hal ini memancing protes keras bangsa Palestina. Aksi Inggris selanjutnya adalah memberikan persetujuannya melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917 agar Yahudi mempunyai tempat tinggal di Palestina. John Norton More dalam bukunya The Arab-Israeli Conflict mengatakan bahwa Deklarasi Balfour telah menina-bobokan penguasa Arab terhadap pengkhiatan Inggris yang menyerahkan Palestina kepada Zionis. Pada tahun 1947 mandat Inggris atas Palestina berakhir dan PBB mengambil alih kekuasaan. Resolusi DK PBB No. 181 (II) tanggal 29 November 1947 membagi Palestina menjadi tiga bagian. Hal ini mendapat protes keras dari penduduk Palestina. Mereka menggelar demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan PBB ini. Lain halnya yang dilakukan dengan bangsa Yahudi. Dengan suka cita mereka mengadakan perayaan atas kemenangan besar ini. Bantuan dari beberapa negara Arab dalam bentuk persenjataan perang mengalir ke Palestina. Saat itu pula menyusul pembubaran gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan pembunuhan terhadap Hasan al-Banna yang banyak berperan dalam membela Palestina dari cengkraman Israel. Apa yang dilakukan Yahudi dalam merebut Palestina tidaklah terlepas dari dukungan Inggris dan Amerika. Berkat dua negara besar inilah akhirnya Yahudi dapat menduduki Palestina secara paksa walaupun proses yang harus dilalui begitu panjang dan sulit. Palestina menjadi negara yang tercabik-cabik selama 30 tahun pendudukan Inggris. Sejak 1918 hingga 1948, sekitar 600.000 orang Yahudi diperbolehkan menempati wilayah Palestina. Penjara-penjara dan kamp-kamp konsentrasi selalu dipadati penduduk Palestina akibat pemberontakan yang mereka lakukan dalam melawan kekejaman Israel. Tahun 1956, Gurun Sinai dan Jalur Gaza dikuasai Israel, setelah gerakan Islam di kawasan Arab dipukul dan Abdul Qadir Audah, Muhammad Firgholi, dan Yusuf Thol’at yang terlibat langsung dalam peperangan dengan Yahudi di Palestina dihukum mati oleh rezim Mesir. Dan pada tahun 1967, semua kawasan Palestina jatuh ke tangan Israel. Peristiwa itu terjadi setelah penggempuran terhadap Gerakan Islam dan hukuman gantung terhadap Sayyid Qutb yang amat ditakuti kaum Yahudi. Tahun 1977, terjadi serangan terhadap Libanon dan perjanjian Camp David yang disponsori oleh mendiang Anwar Sadat dari Mesir . Akhirnya pada Desember 1987, perjuangan rakyat Palestina terhimpun dalam satu kekuatan setelah sekian lama melakukan perlawanan secara sporadis terhadap Israel. Gerakan Intifadhah telah menyatukan solidaritas rakyat Palestina. Intifadhah merupakan aksi pemberontakan massal yang didukung massa dalam jumlah terbesar sejak tahun 1930-an. Sifat perlawanan ini radikal revolusioner dalam bentuk aksi massal rakyat sipil. Adanya kehendak kolektif untuk memberontak sudah tidak dapat ditahan lagi. Untuk tetap bertahan dalam skema transformasi masyarakat yang menghindari aksi kekerasan, maka atas prakarsa Syekh Ahmad Yassin dibentuklah HAMAS (Harakah al-Muqawwah al-Islamiyah) pada bulan Januari 1988, sebagai wadah aspirasi rakyat Palestina yang bertujuan mengusir Israel dari Palestina, mendirikan negara Islam Palestina, dan memelihara kesucian Masjid Al-Aqsha. HAMAS merupakan “anak” dari Ikhwanul Muslimin karena para anggotanya berasal dari para pengikut gerakan Ikhwanul Muslimin. Perlawanan terhadap Israel semakin gencar dilakukan dan mengakibatkan kerugian material bagi Israel berupa kehancuran pertumbuhan ekonomi, penurunan produksi industri dan pertanian, serta penurunan investasi. Kerugian lainnya yaitu hilangnya ketenangan dan rasa aman bangsa Israel. Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat dari pada yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di Basle merupakan titik balik dari sejarah usaha perampasan tanah Palestina dari bangsa Arab. Namun hebatnya, para perampas ini tidak dianggap sebagai ”perampok” tetapi malahan dipuja sebagai ”pahlawan” dan bangsa Arab yang melawannya dianggap sebagai ”teroris” dan penjahat yang perlu dihancurkan. Salah satu kunci untuk memahami semua ini ialah karena sejak Kongres I kaum Zionis sudah mengerti kunci perjuangan abad XX yakni: diplomasi, lobi, dan penguasaan media massa. Herzl sebagai seorang wartawan yang berpengalaman dengan tangkas memanfaatkan tiga senjata andal dalam perjuangan politik abad modern ini. Sejak Kongres I, dia sangat rajin melobi para pembesar di Eropa, mendekati wartawan, dan melancarkan diplomasi ke berbagai negara. Hasilnya sungguh luar biasa. Zionisme lantas diterima sebagai gerakan politik yang sah bagi usaha merampas tanah Palestina untuk bangsa Yahudi. Tokoh-tokoh Yahudi banyak terjun ke media massa, terutama koran dan industri film. Hollywood misalnya didirikan oleh Adolf Zuckjor bersaudara dan Samuel-Goldwyn-Meyer (MGM). Dengan dominasi yang luar biasa ini, mereka berhasil mengubah bangsa Palestina yang sebenarnya adalah korban kaum Zionis menjadi pihak ”penjahat”. . Apakah anda tau siapa yang menguasai kantor-kantor berita seperti Reuter, Assosiated Press, United Press International, surat kabar Times dan jaringan telivisi terkenal dunia serta perusahaan film di Holywood? Semuanya adalah bangsa Yahudi. Reuter didirikan oleh Yahudi Jerman, Julius Paul Reuter yang bernama asli Israel Beer Josaphat. Melalui jaringan informasi dan media komunikasi massa inilah mereka menciptakan image negatif terhadap Islam, seperti Islam Fundamentalis, Islam Teroris, dan lain sebagainya. Demikian gencarnya propaganda ini, sampai-sampai orang Islam sendiri ada yang phobi Islam. Edward Said, dalam bukunya Blaming The Victims secara jitu mengungkapkan bagaimana media massa Amerika menciptakan gambaran negatif bangsa Palestina. Sekitar 25 persen wartawan di Washington dan New York adalah Yahudi, sebaliknya hampir tidak ada koran atau TV Amerika terkemuka yang mempunyai wartawan Arab atau Muslim. Kondisi ini berbeda dengan media Eropa yang meskipun dalam jumlah terbatas masih memiliki wartawan Arab atau muslim. Dengan demikian laporan tentang Palestina di media Eropa secara umum lebih ”fair” daripada media Amerika. Edward Said yang terkenal dengan bukunya Orientalism (Verso 1978), menguraikan apa yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina merupakan praktik kaum Orientalis yang sangat nyata. Pertama, sejarah ditulis ulang, yakni Palestina sebelum berdirnya Israel ialah: wilayah tanpa bangsa untuk bangsa yang tidak mempunyai tanah air. Kedua, bangsa Palestina yang menjadi korban dikesankan sebagai bangsa biadab yang jadi penjahat. Ketiga, tanah Palestina hanya bisa makmur setelah kaum Zionis beremigrasi ke sana.

February 4, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

February 4, 2009 Posted by | Uncategorized | 1 Comment